Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Sunday, 21 August 2016

I Travel Because I Love To, I Come Back Because I Have To -- Pantai Wedi Ombo





























Wishing I have something that could be as solid as a rock
Then the south sea reminded me
that
I could be as fluid as the waves
yet as harsh as the Indian Ocean

...





June 2016
Yogyakarta
Pentax Spotmatic F
Agfa Vista 200 + Expired Fujifilm Superia 200




Thursday, 18 August 2016

I Travel Because I Love To, I Come Back Because I Have To -- Pasar Gang Baru, Semarang


Kurang pas apabila bertandang ke Semarang dan tidak mampir ke daerah pecinannya. Terutama wilayah Pasar Gang Baru yang kesohor itu. Bertandanglah pagi-pagi (sekitar pukul enam atau tujuh) dan kamu akan menyaksikan kota ini bergeliat dengan cepat. Segalanya serba ada di Pasar Gang Baru, kualitas barang dagangannya pun apik-apik. Seusai berbelanja, bisa rehat sebentar sambil menyesapi nikmatnya wedang tahu (tahu lembut dengan kuah jahe).









Apapun tersedia! Termasuk perlengkapan lamaran







Gerbang masuk wilayah pecinan. Di kala Sabtu dan Minggu malam, daerah ini akan menjadi pasar malam yang biasa disebut Pasar Semawis. Segala rupa makanan khas Semarang akan tersedia. Dari es conglik (semacam es putar) sampai pisang penyet! Atmosfernya sedikit unik, karena akan ada sekumpulan ibu-ibu atau orang-orang sepuh yang berkaraoke di pinggir jalan.

Tepat di bagian kanan gerbang ini, terdapat toko tembakau Mukti yang sudah berdiri sejak lama. Cangklong, alat linting, kelobot (rokok dengan lintingan kulit jagung) dan berbagai pilihan tembakau dari berbagai wilayah di Indonesia pun tersedia. Kalau saya tidak salah ingat, toko ini dikelola oleh generasi ketiga sang pemilik awal, dengan gudang tembakau yang ada di Kendal. Uniknya, mereka turut menjual tembakau iris dengan berbagai pilihan rasa. Kopi, buah ceri, mint, ceri mint dan bahkan wine. Rasa-rasa tersebut dihadirkan ke dalam tembakau mereka melalui proses penguapan dari bahan-bahan asli. Begitulah kata sang penjaga toko, dan hal itulah yang membedakan tembakau mereka dengan tembakau-tembakau yang ada di pasaran.






Gedung-gedung (atau bahkan mungkin dapat disebut ruko-ruko) di wilayah pecinan menjadi pusat kegiatan ekonomi di Semarang. Tak kenal lelah. Pagi menjadi Pasar Gang Baru, sore menjelang malam (satu blok di sebelah Pasar Gang Baru) akan menjadi pusat jajanan enak (bistik kambing, mie babi, babat gongso dan banyak lagi) dan tiap akhir pekan akan menjelma menjadi Pasar Semawis. Satu wilayah dengan banyak rupa.




Juni - Juli 2016
Pentax Spotmatic F
Expired Fujifilm Superia 200

Places I've Been Going to by Following My Impulses


My Saturday was all about earthy colors. I and my friend, Indy were getting up on six am and impulsively going somewhere high.





Strolling around tea plantations






Paddy field
The left one is the flowering phase of the paddy. It's mature enough but not ripe enough to be harvested. The right field is ready to be harvested. The plants are 'bowing' and already filled with rice. There's an Indonesian proverb about this:
"Semakin berisi semakin merunduk" which means 
a person who is more knowledgeable or smarter is (ideally) humbler. 





The paddy field post-harvesting




Indy with her Nikon FM2n, shooting coffee tree.




Luwak's poo = luwak coffee






Rubber tapping from the pine tree.




Woods i've been going to by following my impulses






July 2016
Bandung
Pentax Spotmatic F
Kodak Colorplus 200


Friday, 12 August 2016

I Travel Because I Love to, I Come Back Because I Have to -- Semarang, Ketika Makan Adalah Ritual



Semarang, merupakan kota kelahiran yang lucunya saya tidak pernah tumbuh bersamanya. Semacam kota transit. Mampir sebentar untuk lahir dan didaftarkan di catatan sipil. Semarang selalu menjadi suatu identitas yang bersifat legal dan formal bagi saya. Untuk kepentingan menulis tempat tanggal lahir di berbagai formulir dan akhirnya melekat di KTP hingga saya kembali ke tanah nanti. Semarang menjadi sedikit asing sekaligus familiar dalam diri saya. Karena pada kenyataannya saya cukup jarang bertandang ke kota kelahiran dengan tujuan eksplorasi. Selalu terbatas karena agenda keluarga yang sifatnya sowan dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Akhirnya, saya berkesempatan untuk mengecap sepintas seperti apa rasanya tinggal agak sedikit lama di kota kelahiran. Berkenalan dengan sebuah tempat berarti mengecap aneka makanan yang ada di tempat itu.






Babi. Babi. Babi.

Sudah menjadi rahasia umum kalau saya terlalu doyan dengan makhluk berkaki empat yang haram ini. Salah satu sajian babi yang saya coba adalah Ngohiang Bak, Siobak dan Baikut langganan keluarga saya di Semarang. Kedai kecil itu bernama Gajah Mada yang terletak di Jalan Suyudi.





Sepiring Ngohiang Bak di sana merupakan seporsi daging babi dengan berbagai rupa. Dari potongan telinga, usus, daging, perut babi yang dipanggang garing (siobak), lapciong/lap cheong (sosis babi) dan babi-yang-dijadikan-semacam-lumpia-lalu-digoreng-kering, semua ada dalam satu piring.

Lucu, seperti menikmati babi dari berbagai sudut potongan. Berbagai pilihan serta berbagai sensasi lidah ditawarkan dalam satu piring, dari tekstur lucu telinga babi dan renyahnya lemak babi yang dipanggang sempurna. Jangan lupa untuk memesan sayur asinnya, yaitu baikut. Hidangan berkuah yang saya rela seruput kuahnya beserta nasi panas dan diberi sedikit potongan cabai. 



Hampir semua orang yang pergi ke Semarang mencari nasi ayam. Nasi ayam ada di mana-mana. Salah satu yang saya suka adalah nasi ayam yang terletak di dekat jalan Pemuda (saya lupa namanya tapi ingat rasanya). 

Lucunya, nasi ayam tampak seperti ritual keagamaan. Segerombolan manusia akan duduk melingkar. Bagian tengah merupakan altar di mana sang penjual nasi ayam mempersiapkan barang dagangannya. Tiap piring akan dikeluarkan secara berurutan dan ditata sedemikian rupa dengan tata letak yang kurang lebih sama dengan penjual nasi ayam pada umumnya. Baskom besi bergambar bunga besar akan berada di tengah. Dilapisi daun pisang, sebongkah nasi telah siap di dalamnya. Nasi akan menjadi sentrum di mana sebaskom ayam dan sebaskom kuah akan mengapit si nasi. Lalu berpiring-piring lauk-pauk lainnya yang sifatnya tidak wajib (sate usus, sate kulit, ati, paru dan sejenisnya) akan mengelilingi trinitas tersebut. 

Semua hadirin atau ehem umat kultus nasi ayam akan duduk menanti sampai pada saatnya sang penjual nasi ayam bersiap melakukan pelayanan. Semua mengantri dengan sopan. Entahlah, di mata saya semua  hal itu seperti ritual yang sakral. Padahal sekedar makan nasi ayam yang sederhana.



Bagi saya, pengalaman makan tak hanya melulu soal lidah dan perut, idealnya turut menggugah indra lainnya. Saya ingat salah satu pengalaman berkesan adalah ketika saya berkunjung ke Pasar Burung Kartini untuk menyantap swikee.

Kata si penjual swikee, kodok yang disajikan bukan sembarang kodok. Mereka hanya menggunakan kodok liar, bukan kodok hasil ternak. Menurut si penjaja ini, kodok liar memiliki daging yang lebih lembut dan gurih daripada kodok hasil ternak. Walaupun kodok ternak memiliki daging yang lebih banyak, tetapi rasanya akan berbeda.

Saya tak hanya merasakan tauco dan swikee yang lembut ketika bersantap di sana. Saya juga ditemani dengan kicauan berbagai macam burung yang ada dijual di pasar. Sejenak saya sulit memproses. Bingung dengan kicauan berbagai oktaf tetapi padu dan semangkok swikee yang ada di depan mata. Seperti harus merasa terlalu banyak jenis hal dalam waktu yang bersamaan.

---

Sepulang dari Semarang, rasa yang tersisa adalah segala macam makanan nikmat dari berbagai rupa. Dari Nasi Ayam, Nasi Gandul Pak Memet, Bebek Heksa dengan nasi yang tak terbatas (boleh ambil sepuasnya) beserta sambalnya yang luar biasa enak. Bahkan ketika mengetik ini pun saya masih terbayang sambal kacang pecel Mbah Surip beserta sate kerangnya.

Sedikit, saya mulai mengenali kota kelahiran saya. Sedikit mengenal bahwa orang Semarang memang doyan jajan. Bangun pukul 6.30 pagi demi semangkok bubur yang hanya ada di hari Minggu pun rela. Termasuk mengantri berjam-jam untuk menikmati lekker legendaris Paimo. 




Monday, 18 July 2016

Matahari

Entah seorang hari yang memiliki mata
atau
ini perihal jarak

Panas nyalang
Sinar sore
Hingga tenggelam

Semuanya padu dalam satu tak terpisah
dalam suatu waktu

Segala bertumpu padamu,
   matahari





Untuk Firda Firdaus Abdi
Selasa, 21 Juni 2016
Via Via Jogja
4 sore, sambil menikmati sore di Jogja ditemani es kopi

Gemes



Semacam adiksi
Bukan fiksi, tapi fisik

Asa ingin meremas
dan atau merengkuh

Tapi tampak jauh
Yang akhirnya yang
terucap hanyalah,

"Hhhhh gemesh!"




kata 'gemes' dari Kirana Perwita
Via Via Jogja
21 Juni 2016
15.45
Menunggu kereta pulang menuju Bandung

Perihal Pulang dan Rumah






Pergi sesuka hati
Kembali tanpa ada yang menanti
Tak terikat secara hakiki

...

Mungkin pertanyaan sederhana, "di mana rumahmu?" bisa menjadi pertanyaan yang tidak sederhana bagi saya atau bahkan beberapa manusia lain. Kadang pertanyaan seperti itu hinggap di telinga saya menjadi, "siapa rumahmu?"

'Di mana' berubah menjadi 'siapa' mungkin terjadi karena gendang telinga kiri saya yang pernah bolong tahun lalu. Kemampuan pendengaran saya menjadi agak sedikit berkurang. Mungkin juga karena saya cukup sering delusional sendiri, atau bahkan bagi saya, rumah bukan mengenai tempat tetapi seseorang (yang mampu menimbulkan rasa-rasa tertentu).

Rumah bersuara sama dengan arti kata 'pulang' bagi saya. Pulang menuju kenyamanan. Pulang menuju peristirahatan. Berteduh, tumbuh dan hidup dengannya, tak hanya tempat transit belaka. Tidak seperti kamar hotel atau bunk bed di hostel yang menjadi tempat penitipan barang bawaan, mandi dan tidur saja.

Home is where I am roaming around its spaces.

Rumah dan pulang menjadi topik diskusi tiada akhir bagi saya dan beberapa teman saya lainnya. Begitu pula menjadi sebuah ekspedisi pribadi bagi saya. Mencari sesosok rumah yang meneduhkan, menenangkan, tak jemu dan ingin membuat saya segera pulang ke dalamnya. Ekspedisi pencarian sosok tersebut lalu mengantarkan saya pada penemuan akan momen serta benda-benda (duniawi) yang menjelma menjadi rumah.

Kamera film, bir hitam, segelas piccolo atau affogato, kol goreng, sketchbook dengan kertas warna krem, buku, membaca puisi di depan publik, perjalanan di kereta dan semilir angin kelegaan yang saya rasakan ketika naik Gojek di Jakarta (pertanda bahwa kota itu tidak macet) merupakan sedikit dari contoh-contoh yang ada. Rasa akan pulang dan rumah ternyata bisa hadir di mana saja, dengan atau tanpa orang lain dan dengan benda apa saja. Perlu diingat bahwa rumah tidak selalu menyenangkan dan membahagiakan. Kol goreng yang digoreng tidak terlalu kering, penerbangan yang terlambat, satu rol film yang kosong, kamera yang rusak, kopi yang tidak enak dan warung tenda Artomoro yang tidak berjualan. Sebab rumah menimbulkan rasa, rasa-rasa tertentu dan tak terbatas hanya pada rasa-rasa yang membahagiakan saja.

Akhir tahun lalu saya tersadar suatu hal, bahwa apabila rumah dan pulang ada di mana saja (dan kebetulan tidak ada satu sosok tunggal yang menghadirkan rasa rumah) dan bisa menjelma menjadi momen serta benda apa saja, maka rumah dan pulang itu artinya adalah saya sendiri.

Saya agak sedikit ingat momen penyadaran itu terjadi di kedai kopi seberang kampus ketika saya duduk menghadap jendela dengan satu gelas magic yang tandas dan affogato yang masih menggenang. Saya adalah rumah bagi saya sendiri. Tumbuh dan hidup di dalamnya. Pulang berarti pulang menuju inti diri saya, menjadi diri saya sendiri sepenuhnya. Sebab tidak jarang bahwa saya atau mungkin kamu-yang-sedang-membaca-ini, suka lupa untuk kembali mendengar, berpikir dan merasa apa yang terjadi di dalam diri. Rasa-rasa yang timbul bersumber pada diri sendiri, bagaimana kita melihatnya dan memberikan makna terhadap hal-hal yang terjadi di luar diri. Mungkin dalam batasan tertentu, merasa berarti memilih. Termasuk memilih untuk merasa tentang rumah dan pulang.

Mungkin karena tiap diri manusia adalah rumah. Minimal rumah bagi dirinya sendiri. Semoga kita semua tidak lupa untuk pulang. Tumbuh, hidup di antara sekat antar ruang diri sendiri. Mungkin di kemudian hari rumah kita akan semakin besar dan mampu menampung manusia lainnya. Mungkin.



Bandung
Januari - Juli 2016


foto: Pentax Spotmatic F + Fuji Neopan SS 400, diambil di Stasiun Gambir Jakarta

Sunday, 29 May 2016

Rindang



Saya tak butuh dendang
Sedikit dendeng silahkan
untuk perut dan lidah


Bukan

Tunggu

Tolong

Dengar


Bukan, bukan rendang
Rindang, sayang

Rindang

Ingin sedikit teduh
terlalu lama nanti melepuh




kata 'rindang' dari Dilla Soe
semoga bertemu tempat bernaung agar agak sedikit teduh
29 Mei 2016
Ciumbuleuit
5.22 PM

Bandung



Selalu mengadu
karena terlalu sering kelabu
kadang membuat sendu

Lalu biru
sedikit saja terang

Asal jangan terlalu nyalang


Ah sudahlah,
jangan termenung-menung
menunggu

Sini,
kembalilah dalam kelambu
lalu kita menjadi padu





'Bandung', request dari Aransza Audi
kami sama-sama benci+nta dengan kota satu ini
29 Mei 2016
Ciumbuleuit
5.26 PM

Eek



E
E
EEE
EH GIMANA
SAYA SUDAH KEBELET
EEEEEDDAAAAN TENANNN
BAWA BATU BAWA BATU
MUNGKIN BATU KALI
YA KALI BATU KALI PERCAYA
ASU! LUBANG! LUBANG! GALI LUBANG!
LALU KUBUR LAGI! AKU HANYA INGIN
K       E         L        E        G        A        A       N
Y   A   N   G         S   E   D   E   R   H   A   N    A





bonus dari kata 'kuning' di puisi sebelumnya
untuk Teresa Tamara a.k.a Sasa
29 Mei 2016
Ciumbuleuit
Bandung