Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Monday, 20 February 2017

I Travel Because I Love To, I Come Back Because I Have To -- Rembang & Lasem






























Ditemani sepeda onthel biru, satu totebag dan satu kamera
Dua roll film hilang ketika di perjalanan
Pantai-pantai sepi dengan pohon Cemara di dekat bibir pantai

Menyusuri jalan-jalan sepi dan kosong dengan tembok tinggi di kiri-kanan
Pintu kecil warna-warni, dibaliknya ada kehidupan lain

Cerita seram sana sini
Tahun enam lima katanya ada yang tergeletak mati
di jalan
Atau ada seorang sepuh yang telah wafat berhari-hari
Baru ditemukan beberapa hari kemudian, karena sunyi dan tingginya tembok pagar

Sunyi dan senyap
Ramai hanya ada di pasar pagi
atau di Warung Kopi Jinghe

---


sebenarnya ada catatan panjang tentang Rembang dan Lasem, catatannya terselip di atas catatan-catatan lain yang saya tidak tahu di mana. Perihal Pabrik Tegel, ladang garam, kelenteng dan pesantren moderat yang ada di sana. Termasuk nasi jagung serta Lontong Tuyuhan. Termasuk cerita panjang tentang rumah Lawang Ombo yang menyimpan sumur kecil di halaman untuk menyelundupkan opium ke sungai.

Pentax Spotmatic F
Agfa Vista 200
Superia 200

Juni 2016

Sunday, 21 August 2016

I Travel Because I Love To, I Come Back Because I Have To -- Pantai Wedi Ombo





























Wishing I have something that could be as solid as a rock
Then the south sea reminded me
that
I could be as fluid as the waves
yet as harsh as the Indian Ocean

...





June 2016
Yogyakarta
Pentax Spotmatic F
Agfa Vista 200 + Expired Fujifilm Superia 200




Thursday, 18 August 2016

I Travel Because I Love To, I Come Back Because I Have To -- Pasar Gang Baru, Semarang


Kurang pas apabila bertandang ke Semarang dan tidak mampir ke daerah pecinannya. Terutama wilayah Pasar Gang Baru yang kesohor itu. Bertandanglah pagi-pagi (sekitar pukul enam atau tujuh) dan kamu akan menyaksikan kota ini bergeliat dengan cepat. Segalanya serba ada di Pasar Gang Baru, kualitas barang dagangannya pun apik-apik. Seusai berbelanja, bisa rehat sebentar sambil menyesapi nikmatnya wedang tahu (tahu lembut dengan kuah jahe).









Apapun tersedia! Termasuk perlengkapan lamaran







Gerbang masuk wilayah pecinan. Di kala Sabtu dan Minggu malam, daerah ini akan menjadi pasar malam yang biasa disebut Pasar Semawis. Segala rupa makanan khas Semarang akan tersedia. Dari es conglik (semacam es putar) sampai pisang penyet! Atmosfernya sedikit unik, karena akan ada sekumpulan ibu-ibu atau orang-orang sepuh yang berkaraoke di pinggir jalan.

Tepat di bagian kanan gerbang ini, terdapat toko tembakau Mukti yang sudah berdiri sejak lama. Cangklong, alat linting, kelobot (rokok dengan lintingan kulit jagung) dan berbagai pilihan tembakau dari berbagai wilayah di Indonesia pun tersedia. Kalau saya tidak salah ingat, toko ini dikelola oleh generasi ketiga sang pemilik awal, dengan gudang tembakau yang ada di Kendal. Uniknya, mereka turut menjual tembakau iris dengan berbagai pilihan rasa. Kopi, buah ceri, mint, ceri mint dan bahkan wine. Rasa-rasa tersebut dihadirkan ke dalam tembakau mereka melalui proses penguapan dari bahan-bahan asli. Begitulah kata sang penjaga toko, dan hal itulah yang membedakan tembakau mereka dengan tembakau-tembakau yang ada di pasaran.






Gedung-gedung (atau bahkan mungkin dapat disebut ruko-ruko) di wilayah pecinan menjadi pusat kegiatan ekonomi di Semarang. Tak kenal lelah. Pagi menjadi Pasar Gang Baru, sore menjelang malam (satu blok di sebelah Pasar Gang Baru) akan menjadi pusat jajanan enak (bistik kambing, mie babi, babat gongso dan banyak lagi) dan tiap akhir pekan akan menjelma menjadi Pasar Semawis. Satu wilayah dengan banyak rupa.




Juni - Juli 2016
Pentax Spotmatic F
Expired Fujifilm Superia 200

Places I've Been Going to by Following My Impulses


My Saturday was all about earthy colors. I and my friend, Indy were getting up on six am and impulsively going somewhere high.





Strolling around tea plantations






Paddy field
The left one is the flowering phase of the paddy. It's mature enough but not ripe enough to be harvested. The right field is ready to be harvested. The plants are 'bowing' and already filled with rice. There's an Indonesian proverb about this:
"Semakin berisi semakin merunduk" which means 
a person who is more knowledgeable or smarter is (ideally) humbler. 





The paddy field post-harvesting




Indy with her Nikon FM2n, shooting coffee tree.




Luwak's poo = luwak coffee






Rubber tapping from the pine tree.




Woods i've been going to by following my impulses






July 2016
Bandung
Pentax Spotmatic F
Kodak Colorplus 200


Friday, 12 August 2016

I Travel Because I Love to, I Come Back Because I Have to -- Semarang, Ketika Makan Adalah Ritual



Semarang, merupakan kota kelahiran yang lucunya saya tidak pernah tumbuh bersamanya. Semacam kota transit. Mampir sebentar untuk lahir dan didaftarkan di catatan sipil. Semarang selalu menjadi suatu identitas yang bersifat legal dan formal bagi saya. Untuk kepentingan menulis tempat tanggal lahir di berbagai formulir dan akhirnya melekat di KTP hingga saya kembali ke tanah nanti. Semarang menjadi sedikit asing sekaligus familiar dalam diri saya. Karena pada kenyataannya saya cukup jarang bertandang ke kota kelahiran dengan tujuan eksplorasi. Selalu terbatas karena agenda keluarga yang sifatnya sowan dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Akhirnya, saya berkesempatan untuk mengecap sepintas seperti apa rasanya tinggal agak sedikit lama di kota kelahiran. Berkenalan dengan sebuah tempat berarti mengecap aneka makanan yang ada di tempat itu.






Babi. Babi. Babi.

Sudah menjadi rahasia umum kalau saya terlalu doyan dengan makhluk berkaki empat yang haram ini. Salah satu sajian babi yang saya coba adalah Ngohiang Bak, Siobak dan Baikut langganan keluarga saya di Semarang. Kedai kecil itu bernama Gajah Mada yang terletak di Jalan Suyudi.





Sepiring Ngohiang Bak di sana merupakan seporsi daging babi dengan berbagai rupa. Dari potongan telinga, usus, daging, perut babi yang dipanggang garing (siobak), lapciong/lap cheong (sosis babi) dan babi-yang-dijadikan-semacam-lumpia-lalu-digoreng-kering, semua ada dalam satu piring.

Lucu, seperti menikmati babi dari berbagai sudut potongan. Berbagai pilihan serta berbagai sensasi lidah ditawarkan dalam satu piring, dari tekstur lucu telinga babi dan renyahnya lemak babi yang dipanggang sempurna. Jangan lupa untuk memesan sayur asinnya, yaitu baikut. Hidangan berkuah yang saya rela seruput kuahnya beserta nasi panas dan diberi sedikit potongan cabai. 



Hampir semua orang yang pergi ke Semarang mencari nasi ayam. Nasi ayam ada di mana-mana. Salah satu yang saya suka adalah nasi ayam yang terletak di dekat jalan Pemuda (saya lupa namanya tapi ingat rasanya). 

Lucunya, nasi ayam tampak seperti ritual keagamaan. Segerombolan manusia akan duduk melingkar. Bagian tengah merupakan altar di mana sang penjual nasi ayam mempersiapkan barang dagangannya. Tiap piring akan dikeluarkan secara berurutan dan ditata sedemikian rupa dengan tata letak yang kurang lebih sama dengan penjual nasi ayam pada umumnya. Baskom besi bergambar bunga besar akan berada di tengah. Dilapisi daun pisang, sebongkah nasi telah siap di dalamnya. Nasi akan menjadi sentrum di mana sebaskom ayam dan sebaskom kuah akan mengapit si nasi. Lalu berpiring-piring lauk-pauk lainnya yang sifatnya tidak wajib (sate usus, sate kulit, ati, paru dan sejenisnya) akan mengelilingi trinitas tersebut. 

Semua hadirin atau ehem umat kultus nasi ayam akan duduk menanti sampai pada saatnya sang penjual nasi ayam bersiap melakukan pelayanan. Semua mengantri dengan sopan. Entahlah, di mata saya semua  hal itu seperti ritual yang sakral. Padahal sekedar makan nasi ayam yang sederhana.



Bagi saya, pengalaman makan tak hanya melulu soal lidah dan perut, idealnya turut menggugah indra lainnya. Saya ingat salah satu pengalaman berkesan adalah ketika saya berkunjung ke Pasar Burung Kartini untuk menyantap swikee.

Kata si penjual swikee, kodok yang disajikan bukan sembarang kodok. Mereka hanya menggunakan kodok liar, bukan kodok hasil ternak. Menurut si penjaja ini, kodok liar memiliki daging yang lebih lembut dan gurih daripada kodok hasil ternak. Walaupun kodok ternak memiliki daging yang lebih banyak, tetapi rasanya akan berbeda.

Saya tak hanya merasakan tauco dan swikee yang lembut ketika bersantap di sana. Saya juga ditemani dengan kicauan berbagai macam burung yang ada dijual di pasar. Sejenak saya sulit memproses. Bingung dengan kicauan berbagai oktaf tetapi padu dan semangkok swikee yang ada di depan mata. Seperti harus merasa terlalu banyak jenis hal dalam waktu yang bersamaan.

---

Sepulang dari Semarang, rasa yang tersisa adalah segala macam makanan nikmat dari berbagai rupa. Dari Nasi Ayam, Nasi Gandul Pak Memet, Bebek Heksa dengan nasi yang tak terbatas (boleh ambil sepuasnya) beserta sambalnya yang luar biasa enak. Bahkan ketika mengetik ini pun saya masih terbayang sambal kacang pecel Mbah Surip beserta sate kerangnya.

Sedikit, saya mulai mengenali kota kelahiran saya. Sedikit mengenal bahwa orang Semarang memang doyan jajan. Bangun pukul 6.30 pagi demi semangkok bubur yang hanya ada di hari Minggu pun rela. Termasuk mengantri berjam-jam untuk menikmati lekker legendaris Paimo.