Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Sunday, 6 February 2011

Kaffe-stol-Teccanica





Teccanica pergi ke kedai kopi kecil, mungil dan sepi. Kedai yang dari luar tampak sangat hangat dan nyaman. Ada beberapa orang di dalam kedai, saling bercengkerama dan tertawa. Kedai kopi itu tampaknya hanya dikelola dua orang, dua barista muda. Pandangan Teccanica menyapu seisi ruangan, memilah mana tempat duduk yang tampak paling nyaman. Itu dia.

Dua kursi kayu dengan meja kayu bundar dekat jendela besar. Sempurna. Teccanica duduk di sana. Datanglah salah satu barista, memberikan buku kecil berisi menu. "Selamat pagi, baru pertama kali ke sini?"tanya bartender muda itu dengan sopan dan ramah. "Iya. Saya baru pertama kali ke sini. Hmm di sini apa yang khas? Saya suka kopi hangat atau teh hangat. Ada rekomendasi?"tanya Teccanica.

"Ya saya ada rekomendasi. Tampaknya anda bisa pindah ke tempat duduk yang lebih nyaman di sana, daripada di sini,"jawab bartender itu tenang. Ia menjawabnya dengan penuh senyum.

"Maksud saya rekomendasi minuman,"jelas Teccanica.

"Ah, Ristretto kami cukup dahsyat untuk membuat Anda terjaga beberapa jam. Dengan aroma kayu manis."

"Ada Americano? Saya pesan itu saja satu. Ah ya, memangnya ada apa dengan kursi ini? Berhantukah?"

"Ah tidak berhantu! Hanya saja pelanggan kami tak ada yang tahan dan betah duduk di sini berlama-lama. Mereka duduk hanya sebentar lalu pindah ke kursi lain bahkan pulang. Kalau ditanyai, mereka bilang kursinya aneh dan membuat mereka tidak nyaman. Lalu dekat dengan jendela besar yang kalau matahari sedang terik-teriknya, sinarnya bisa bikin panas. Kalau hujan lebat, kilat dan petir terlihat lebih dekat dan mengerikan"

"Bukankah bagus? Lebih dekat dengan langit dan pemandangan? Lagipula bisa melihat pohon besar itu dari dekat. Tidak pernah terpikir untuk memindahkan kursi ini atau menyingkirkannya atau......"

"Ah tidak terpikir sama sekali oleh kami untuk menyingkirkan kursi ini. Biarkanlah ia di sini. Baiklah satu americano saja?"

"Iya. Itu saja dulu, terimakasih"

Teccanica merenung. Ada yang salahkah dengan tempat duduk ini? Posisinya memang aneh, dekat sekali dengan jendela setengah lingkaran yang ukurannya tergolong raksasa. Lalu kursinya tampak lebih tua daripada kursi lainnya. Tapi ada daya tarik tertentu menurut Teccanica.

...

Enam bulan berikutnya pun, jika mampir ke kedai tersebut, Teccanica selalu duduk di sana. Pernah sesekali ia mencoba kursi-kursi lainnya. Baginya, kursi-kursi lain itu justru yang tidak nyaman sepenuhnya. Tidak membuat betah Teccanica. Badannya selalu pegal dan lelah apabila duduk di kursi lain. Kurang dari 10 menit ia langsung segera pindah ke kursi dekat jendela raksasa itu. Lalu lama kelamaan, kedua barista itu pun tampaknya menyebut kursi itu adalah "Kursi Teccanica" ya seperti Teccanica yang memiliki tahta di sana. Kalau dilihat memang akhirnya kursi tersebut miliknya seorang. Teccanica menganggap sudut ruangan itu adalah miliknya seutuhnya. Lengkap dengan jendela besar dan pemandangan akan pohon besar di luar.

"Masih duduk di sini ya kamu,"canda si barista kepadanya seraya mengantarkan kopi vietnam hangat.

"Orang awam memang tidak mengerti,"balas Teccanica dengan gaya sok bijak dibuat-buat.

"Kau yang sok,"canda si barista lagi.

"Apa salahnya menemukan kursi nyaman lalu enggan untuk berpindah tempat duduk? Ada jutaan kursi di luar sana tapi saya tak berniat hati untuk menduduki yang lain. Biarkanlah saya duduk di sini dengan tenang. Walaupun penikmat kopi yang lain mengatakan duduk di sini tidak enak. Hah, ini pas untuk saya. Lagipula keinginan saya toh untuk duduk di sini. Tampaknya si kursi enak-enak saja saya duduki,"jawab Teccanica tenang.

"Datang ke sini selalu berkelakar tentang tahtamu ya, Teccanica"

"Kamu, datang ke sini selalu bertanya. Lebih baik kamu mengobrol dengan biji kopi saja sana. Mereka merengek minta diracik. Ada lima pengunjung baru yang tiba. Sebaiknya kamu membantu saudaramu membuatkan kopi untuk mereka."

"Ah bingung saya denganmu"

"Ah semua orang bingung dengan saya. Saya pun bingung dengan mereka"

2 comments:

mpokb said...

Sama-sama bingung, berarti sama-sama normal. Tapi, normal itu apa yak...? :D
-- posting yang keren, Non.. ;)

dayinta sekar pinasthika said...

makasih lho mpok :)) hmm normal itu mungkin apa ya? sesuatu yang dianggap lazim oleh khalayak?