Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Wednesday, 29 February 2012

------------------------------------.




i can keep drawing.
i can keep taking some photo.

what matter is:
................................................

well, you don't have to know it.

Saturday, 18 February 2012

Sorge Magazine: Mari Berpuisi - "Para Peminum"








Mirza Fahmi - "Para Peminum" karya Sutradji Calzoum Bachri


+++



Sorge Magazine: Mari Berpuisi - "Aku Lupa Rasanya Berada Dalam Air"








Eva Pauline - "Aku Lupa Rasanya Berada Dalam Air"



one of some collaborative projects i am working on right now.
puisi dalam video.

+++

Thursday, 16 February 2012

----------------------------------------------------------------------------------------------.

Hanyalah sebuah kisah sederhana yang terpenggal dari kisah panjang. Sederhananya anak manusia mencari ilmu dan kebahagiaan. Berlayar dengan angin menuju daratan lain berbekal harapan sang orangtua bertengger di pundaknya. Sama seperti lanun maupun pelaut mana pun, di hati berbisik akan desiran pasir yang halus, hangat dan matahari yang menyengat tetapi indah. Sesuatu yang dituju adalah sesuatu yang lain dan menyenangkan. Seharusnya
Tetapi seharusnya tersebut digantikan oleh idealnya. Bahkan, tergantikan pula dengan apa yang tak diinginkan, sebaliknya. Sang anak terheran, mengapa anak kecil sedari dulu harus diceritakan tentang segala hal yang baik dan indah? Tak bercerita tentang realita semata? Salahkah? Ternyata fiksi, walaupun terkadang, benar-benar fiksi yang memabukkan. Miskin realita. Inilah kenyataannya, teman. Rasanya seperti disodorkan sepiring penuh realita di depan hidung dan matamu. Menyesal telah menjadi utopis selama fase hidup sebelumnya. Bodoh rasanya.
Langit biru hingga abu menemani. Desir angin berusaha menyejukkan sekaligus menghangatkan. Tapak kakiku tak menjamah manapun, tak ada sebersit kecil niat. Semuanya tampak klise dan bohong.

...

Ke mana sajakah aku pergi?
Sudah tercebur basah di sini, bisakah aku keringkan diriku sendiri?
Asin garam dan bau laut tetap menempel.
Menyesal?

Sayangnya tak ada guna, percuma.

...
Bintang malam kadang muncul kadang tidak. Heran ke mana perginya. Kertas-kertas koran di dinding menjadi saksi bisu. Menonton dengan terpana, sebal dan kasihan menjadi satu. Entahlah. Ia hanya diam di dinding. Diam kaku tak bergerak. Sedangkan aku di sini seperti menyesali apa yang tidak bisa disesali. Keraguan terus memburu tiap tarikan nafas. Adakah kesempatan di luar sana? Adakah secercah lagit biru dan matahari hangat esok hari?

Salahkah aku tiba di sini?

Tampaknya salah besar
dan satu-satunya cara untuk memudahkanku adalah dengan
menulis tanda titik dua dan kurung tutup di wajahku.



.....

Monday, 6 February 2012

Abu





ketika segala hal seperti seharusnya adalah putih,
ada saya yang tetap menjadi hitam


segala dari berbagai segala tak ada abu
yang ada hanyalah putih atau hitam


saya bukan putih di sana, di sini atau di tanah manapun
tetapi saya hitam, dengan sebersit putih


maka saya abu,
bukan hitam sepenuhnya maupun putih seutuhnya


ke manakah perginya orang-orang seperti saya?


...


saya dilingkari cahaya putih kosong,
ke arah membutakan


sekali lagi, saya bukan putih


segala rupa wajah dan bentuk pergi menyongsong dengan rel seharusnya


sedangkan saya di sini, di stasiun antah berantah tanpa rel,
bukan berarti saya tanpa tujuan
bukan berarti saya tidak ingin pergi lintas batas
...


saya tak hendak naik gerbong kereta
saya ingin terbang 
...


sebab saya abu.












+ + +