Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Monday, 18 July 2016

Matahari

Entah seorang hari yang memiliki mata
atau
ini perihal jarak

Panas nyalang
Sinar sore
Hingga tenggelam

Semuanya padu dalam satu tak terpisah
dalam suatu waktu

Segala bertumpu padamu,
   matahari





Untuk Firda Firdaus Abdi
Selasa, 21 Juni 2016
Via Via Jogja
4 sore, sambil menikmati sore di Jogja ditemani es kopi

Gemes



Semacam adiksi
Bukan fiksi, tapi fisik

Asa ingin meremas
dan atau merengkuh

Tapi tampak jauh
Yang akhirnya yang
terucap hanyalah,

"Hhhhh gemesh!"




kata 'gemes' dari Kirana Perwita
Via Via Jogja
21 Juni 2016
15.45
Menunggu kereta pulang menuju Bandung

Perihal Pulang dan Rumah






Pergi sesuka hati
Kembali tanpa ada yang menanti
Tak terikat secara hakiki

...

Mungkin pertanyaan sederhana, "di mana rumahmu?" bisa menjadi pertanyaan yang tidak sederhana bagi saya atau bahkan beberapa manusia lain. Kadang pertanyaan seperti itu hinggap di telinga saya menjadi, "siapa rumahmu?"

'Di mana' berubah menjadi 'siapa' mungkin terjadi karena gendang telinga kiri saya yang pernah bolong tahun lalu. Kemampuan pendengaran saya menjadi agak sedikit berkurang. Mungkin juga karena saya cukup sering delusional sendiri, atau bahkan bagi saya, rumah bukan mengenai tempat tetapi seseorang (yang mampu menimbulkan rasa-rasa tertentu).

Rumah bersuara sama dengan arti kata 'pulang' bagi saya. Pulang menuju kenyamanan. Pulang menuju peristirahatan. Berteduh, tumbuh dan hidup dengannya, tak hanya tempat transit belaka. Tidak seperti kamar hotel atau bunk bed di hostel yang menjadi tempat penitipan barang bawaan, mandi dan tidur saja.

Home is where I am roaming around its spaces.

Rumah dan pulang menjadi topik diskusi tiada akhir bagi saya dan beberapa teman saya lainnya. Begitu pula menjadi sebuah ekspedisi pribadi bagi saya. Mencari sesosok rumah yang meneduhkan, menenangkan, tak jemu dan ingin membuat saya segera pulang ke dalamnya. Ekspedisi pencarian sosok tersebut lalu mengantarkan saya pada penemuan akan momen serta benda-benda (duniawi) yang menjelma menjadi rumah.

Kamera film, bir hitam, segelas piccolo atau affogato, kol goreng, sketchbook dengan kertas warna krem, buku, membaca puisi di depan publik, perjalanan di kereta dan semilir angin kelegaan yang saya rasakan ketika naik Gojek di Jakarta (pertanda bahwa kota itu tidak macet) merupakan sedikit dari contoh-contoh yang ada. Rasa akan pulang dan rumah ternyata bisa hadir di mana saja, dengan atau tanpa orang lain dan dengan benda apa saja. Perlu diingat bahwa rumah tidak selalu menyenangkan dan membahagiakan. Kol goreng yang digoreng tidak terlalu kering, penerbangan yang terlambat, satu rol film yang kosong, kamera yang rusak, kopi yang tidak enak dan warung tenda Artomoro yang tidak berjualan. Sebab rumah menimbulkan rasa, rasa-rasa tertentu dan tak terbatas hanya pada rasa-rasa yang membahagiakan saja.

Akhir tahun lalu saya tersadar suatu hal, bahwa apabila rumah dan pulang ada di mana saja (dan kebetulan tidak ada satu sosok tunggal yang menghadirkan rasa rumah) dan bisa menjelma menjadi momen serta benda apa saja, maka rumah dan pulang itu artinya adalah saya sendiri.

Saya agak sedikit ingat momen penyadaran itu terjadi di kedai kopi seberang kampus ketika saya duduk menghadap jendela dengan satu gelas magic yang tandas dan affogato yang masih menggenang. Saya adalah rumah bagi saya sendiri. Tumbuh dan hidup di dalamnya. Pulang berarti pulang menuju inti diri saya, menjadi diri saya sendiri sepenuhnya. Sebab tidak jarang bahwa saya atau mungkin kamu-yang-sedang-membaca-ini, suka lupa untuk kembali mendengar, berpikir dan merasa apa yang terjadi di dalam diri. Rasa-rasa yang timbul bersumber pada diri sendiri, bagaimana kita melihatnya dan memberikan makna terhadap hal-hal yang terjadi di luar diri. Mungkin dalam batasan tertentu, merasa berarti memilih. Termasuk memilih untuk merasa tentang rumah dan pulang.

Mungkin karena tiap diri manusia adalah rumah. Minimal rumah bagi dirinya sendiri. Semoga kita semua tidak lupa untuk pulang. Tumbuh, hidup di antara sekat antar ruang diri sendiri. Mungkin di kemudian hari rumah kita akan semakin besar dan mampu menampung manusia lainnya. Mungkin.



Bandung
Januari - Juli 2016


foto: Pentax Spotmatic F + Fuji Neopan SS 400, diambil di Stasiun Gambir Jakarta