Clouds and blue sky
Some of my favourite things in this world.

} means bird
* * * means guano

Welcome to my visual archive of mind.

Regrets,

Day} * * * * * *

Friday, 12 August 2016

I Travel Because I Love to, I Come Back Because I Have to -- Semarang, Ketika Makan Adalah Ritual



Semarang, merupakan kota kelahiran yang lucunya saya tidak pernah tumbuh bersamanya. Semacam kota transit. Mampir sebentar untuk lahir dan didaftarkan di catatan sipil. Semarang selalu menjadi suatu identitas yang bersifat legal dan formal bagi saya. Untuk kepentingan menulis tempat tanggal lahir di berbagai formulir dan akhirnya melekat di KTP hingga saya kembali ke tanah nanti. Semarang menjadi sedikit asing sekaligus familiar dalam diri saya. Karena pada kenyataannya saya cukup jarang bertandang ke kota kelahiran dengan tujuan eksplorasi. Selalu terbatas karena agenda keluarga yang sifatnya sowan dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Akhirnya, saya berkesempatan untuk mengecap sepintas seperti apa rasanya tinggal agak sedikit lama di kota kelahiran. Berkenalan dengan sebuah tempat berarti mengecap aneka makanan yang ada di tempat itu.






Babi. Babi. Babi.

Sudah menjadi rahasia umum kalau saya terlalu doyan dengan makhluk berkaki empat yang haram ini. Salah satu sajian babi yang saya coba adalah Ngohiang Bak, Siobak dan Baikut langganan keluarga saya di Semarang. Kedai kecil itu bernama Gajah Mada yang terletak di Jalan Suyudi.





Sepiring Ngohiang Bak di sana merupakan seporsi daging babi dengan berbagai rupa. Dari potongan telinga, usus, daging, perut babi yang dipanggang garing (siobak), lapciong/lap cheong (sosis babi) dan babi-yang-dijadikan-semacam-lumpia-lalu-digoreng-kering, semua ada dalam satu piring.

Lucu, seperti menikmati babi dari berbagai sudut potongan. Berbagai pilihan serta berbagai sensasi lidah ditawarkan dalam satu piring, dari tekstur lucu telinga babi dan renyahnya lemak babi yang dipanggang sempurna. Jangan lupa untuk memesan sayur asinnya, yaitu baikut. Hidangan berkuah yang saya rela seruput kuahnya beserta nasi panas dan diberi sedikit potongan cabai. 



Hampir semua orang yang pergi ke Semarang mencari nasi ayam. Nasi ayam ada di mana-mana. Salah satu yang saya suka adalah nasi ayam yang terletak di dekat jalan Pemuda (saya lupa namanya tapi ingat rasanya). 

Lucunya, nasi ayam tampak seperti ritual keagamaan. Segerombolan manusia akan duduk melingkar. Bagian tengah merupakan altar di mana sang penjual nasi ayam mempersiapkan barang dagangannya. Tiap piring akan dikeluarkan secara berurutan dan ditata sedemikian rupa dengan tata letak yang kurang lebih sama dengan penjual nasi ayam pada umumnya. Baskom besi bergambar bunga besar akan berada di tengah. Dilapisi daun pisang, sebongkah nasi telah siap di dalamnya. Nasi akan menjadi sentrum di mana sebaskom ayam dan sebaskom kuah akan mengapit si nasi. Lalu berpiring-piring lauk-pauk lainnya yang sifatnya tidak wajib (sate usus, sate kulit, ati, paru dan sejenisnya) akan mengelilingi trinitas tersebut. 

Semua hadirin atau ehem umat kultus nasi ayam akan duduk menanti sampai pada saatnya sang penjual nasi ayam bersiap melakukan pelayanan. Semua mengantri dengan sopan. Entahlah, di mata saya semua  hal itu seperti ritual yang sakral. Padahal sekedar makan nasi ayam yang sederhana.



Bagi saya, pengalaman makan tak hanya melulu soal lidah dan perut, idealnya turut menggugah indra lainnya. Saya ingat salah satu pengalaman berkesan adalah ketika saya berkunjung ke Pasar Burung Kartini untuk menyantap swikee.

Kata si penjual swikee, kodok yang disajikan bukan sembarang kodok. Mereka hanya menggunakan kodok liar, bukan kodok hasil ternak. Menurut si penjaja ini, kodok liar memiliki daging yang lebih lembut dan gurih daripada kodok hasil ternak. Walaupun kodok ternak memiliki daging yang lebih banyak, tetapi rasanya akan berbeda.

Saya tak hanya merasakan tauco dan swikee yang lembut ketika bersantap di sana. Saya juga ditemani dengan kicauan berbagai macam burung yang ada dijual di pasar. Sejenak saya sulit memproses. Bingung dengan kicauan berbagai oktaf tetapi padu dan semangkok swikee yang ada di depan mata. Seperti harus merasa terlalu banyak jenis hal dalam waktu yang bersamaan.

---

Sepulang dari Semarang, rasa yang tersisa adalah segala macam makanan nikmat dari berbagai rupa. Dari Nasi Ayam, Nasi Gandul Pak Memet, Bebek Heksa dengan nasi yang tak terbatas (boleh ambil sepuasnya) beserta sambalnya yang luar biasa enak. Bahkan ketika mengetik ini pun saya masih terbayang sambal kacang pecel Mbah Surip beserta sate kerangnya.

Sedikit, saya mulai mengenali kota kelahiran saya. Sedikit mengenal bahwa orang Semarang memang doyan jajan. Bangun pukul 6.30 pagi demi semangkok bubur yang hanya ada di hari Minggu pun rela. Termasuk mengantri berjam-jam untuk menikmati lekker legendaris Paimo. 




No comments: